Bagaimana Jika Pasangan Wanita Lebih Tua
Saya pemuda berusia 29 tahun dan masih melajang. Akhir-akhir ini saya tertarik dengan seorang wanita yang 6 tahun lebih tua. Kami bertemu secara tidak sengaja ketika saya mengunjungi teman lama di SMTA. Wanita itu masih saudaranya. Ketika saya berjumpa dia, hati saya bergetar. Ada aliran cinta yang mengalir dalam hati saya. Saya berusaha mendekati dan mengenal wanita itu. Setelah dekat dan mengenalnya, saya benar-benar respek. Saya tidak melihat bahwa wanita itu lebih tua dari saya.
Hati saya merasa sangat sejuk bila di sampingnya. Dia memang pantas menjadi pendamping hidup saya. Saya siap menerima kekurangan dan kelebihannya. Tetapi masalahnya, keluarga saya agak keberatan karena perbedaan usia itu.
Apakah saya harus bertingkah laku seperti orang tua untuk mengimbangi wanita itu? Bagaimana jalan keluarnya, Bu?
(Joko, di Jogya)
JAWABAN
Hallo..Joko di JogyaKetika bertemu dengan wanita idamanmu, wajarlah jika hatimu bergetar. Ini adalah perasaan yang normal. Mungkin saja ini pertanda, “tulang rusuk yang hilang” yang selama ini dicari, sudah Anda temukan.
Tetapi perhatikanlah, cinta sejati itu tidak berdasar emosi belaka. Anda harus terus mengenal, memahami dan mendalami hubungan ini sehingga Anda mampu menampilkan jati dirimu apa adanya, demikian pula dengan pasangan wanita Anda. Mungkin suatu ketika timbul konflik atau perbedaan pendapat. Tetapi jika wanita itu pilihan terbaikmu, Anda tidak boleh ragu. Anda dan pasangan harus terus bertumbuh dalam Tuhan, saling melengkapi dan menajamkan. Seperti yang tertulis di Amsal, Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Amsal 27:17)
Ada pula ungkapan, ketika berpacaran buka “mata” lebar-lebar tetapi setelah menikah tutup “mata” rapat-rapat. Ungkapan ini menyiratkan bahwa akan banyak kekurangan yang ditemui dari masing-masing pasangan. Namun kekurangan itu tidak menjadi alasan untuk mencari yang lain setelah perkawinan.
Keputusan menikah atau tidak tergantung pada kalian berdua. Ketika keluarga agak keberatan, itu wajar saja karena mereka punya “penilaian” tersendiri. Tunjukkan ketegasan dan kewibawaanmu sebagai “calon suami”, ataupun sebagai “bakal imam keluarga”.
|