Untitled Document
HOME
ABOUT US
DEVOTIONAL
ARTICLE
MAGAZINE
COUNSELING
PRAYER
TESTIMONY
DONATE
CONTACT US
Dr. Stanley's 30 Life Principles

Prnsip Kehidupan 30 - Mengantisipasikan Kedatangan Tuhan Kembali Kelak

Firman Tuhan terambil dari : Matius 24

Seberapa sering-kah Anda merenungkan kedatangan Yesus kembali kelak? Apakah terkadang Anda meragukan bahwa Ia akan datang kembali kelak sebab sudah 2000 tahun waktu berlalu? Mungkin Anda ada alasan untuk meragukannya. Dan Ia mengatakan bahwa Ia akan datang kembali kelak, namun 2000 tahun itu lama sekali. Dan ketika Anda merenungkan kedatangan-Nya kembali kelak, pertanyaan paling utama apakah yang orang ajukan?

 Kapankah? itulah yang orang ingin tahu kapan. kapankah? Kapankah? Dan sesekali seseorang bertanya kepada saya … Apakah Anda percaya bahwa Yesus akan segera datang kembali? Dan beginilah yang telah saya temukan, bahwa jawaban saya entah akan membawakan sukacita atau kemuraman bagi mereka. Dan ketika saya mengatakan apa yang benar-benar saya percayai, yaitu – saya tidak tahu, wajahnya langsung muram. Sebab mereka mengharapkan saya untuk mengatakan … Oh ya, saya percaya Ia bisa datang kembali setiap saat. Tentu bisa. Akan tetapi saya tahu apa yang mereka cari. Sungguh menarik dalam Alkitab, orang terus saja menanyakan kapankah, kapankah, kapankah. Ternyata sikap mereka sama saja dengan kita sekarang yang juga menanyakan kapankah, kapankah.

Dan apa yang Yesus katakan kepada mereka itulah yang ingin saya sampaikan kepada Anda hari ini. Yang ingin saya lakukan adalah membicarakan tentang – mengantisipasikan kedatangan-Nya kembali kelak, merenungkan kedatangan-Nya kembali kelak. Dan saya mau memulai dengan merenungkan janji-janji-Nya. 

Yesus memberikan sejumlah janji tentang kedatangan-Nya kembali kelak, bersamaan dengan rasul Paulus, Petrus, dan murid-murid-Nya yang lain. Jadi, apa kebenarannya? Mari kita mendengarkan sebentar, apa saja beberapa janji Yesus.

Mari kita membuka Matius 24, dan ini adalah pasal yang sangat penting dalam Alkitab tentang kedatangan Yesus kembali kelak dan segala hal yang akan terjadi. Dan karena pasal ini membingungkan bagi sebagian orang, saya mau kita membaca 3 ayat pertama dari pasal 24 ini. Dan saya hanya mau mengatakan satu hal agar ketika seseorang menanyakannya, Anda akan dapat menjawabnya.

Matius 24:1-3: “Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.’ Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?’”

Perhatikanlah. Mereka mengajukan 3 pertanyaan kepada Yesus. Kalau Anda membaca pasal ini hanya mengira mereka mengajukan satu pertanyaan, Anda akan bingung. Kata mereka, “Kami mau mengetahui 3 hal.” Pertama. Kapan semuanya itu akan terjadi, soal batu-batu itu diruntuhkan. Yang memang terjadi kira-kira 40 tahun kemudian ketika Titus datang dan menghancurkan Yerusalem. Kedua, apa tanda kedatangan-Mu kembali kelak? Itu pertanyaan yang sama sekali lain. Ketiga, apa tanda akhir zaman? Pertanyaan yang sama sekali lain.

Jadi ketika Anda membaca Matius 24, segala yang Anda baca di sini bukanlah berarti bahwa semuanya itu harus terjadi sebelum Yesus datang kembali kelak. Bukan itu maksudnya. Akan tetapi yang saya mau kita mempelajari di sini terutama adalah janji-janji Yesus. Perhatikan Matius 24:30: “Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.”

Mari kita membaca Yohanes 14. Pada malam sebelum Yesus pergi, Yohanes 14:3. Dan sebagian besar orang di antara Anda mungkin sudah menghafalnya. Ingatlah Yesus memulai dengan mengatakan dalam Yohanes 14:1-3: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Malam sebelum Yesus pergi. Janji besar.

Lalu mari kita membuka Kisah Para Rasul. Yesus sudah dibangkitkan dari antara orang mati. Dan perhatikan pasal 1. Kembali Yesus berbicara kepada mereka tentang hal-hal yang akan terjadi. Lalu muncullah pertanyaan yang sama. Sebab Yesus mengatakan dalam Kisah Para Rasul 1:6-7:
“Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: (Pertanyaan yang sama) ‘Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?’ (Yaitu mengalahkan orang Romawi dan memulihkan Israel, menjadikan Israel yang berkuasa). Jawab-Nya: ‘Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.’”

Lalu mari kita membaca kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab. Kembali penekanan yang sama. Wahyu 1:7: “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.”

Jadi dalam keseluruhan Kitab Suci, ada janji tentang kedatangan-Nya kembali kelak. Mungkin Anda mengatakan, “Sudah 2000 tahun berlalu, nyatanya Ia belum juga datang kembali.” Akan tetapi saya mau membaca suatu ayat dalam Kitab Wahyu yang memberikan penjelasan mengapa kita masih juga menanyakan, mengapa kita masih juga membicarakan soal waktunya.

Dan itulah pertanyaan yang paling menonjol. Misalnya, orang tidak bertanya – menurut Anda, apa yang akan terjadi ketika Yesus datang kembali kelak? Pertanyaan pertama adalah – Menurut Anda, apakah Ia akan segera datang kembali? Tentu saja bisa. Sesungguhnya, kebenarannya adalah – ketika Anda dan saya sungguh-sungguh memikirkan dengan serius bahwa Yesus Kristus bisa saja datang kembali setiap saat, yang terjadi adalah – ketika kita mempunyai keyakinan kuat seperti itu, kita akan hidup saleh. Seandainya Anda berpikir bahwa Ia bisa saja datang kembali setiap saat, dan itu memang benar, kalau Anda benar-benar percaya hal itu, maka Anda akan termotivasi untuk hidup saleh.

Sayangnya dunia tidak merasa demikian. Mereka kira pertama-tama tidak ada yang namanya Yesus datang kembali, atau mereka bahkan tidak percaya bahwa Yesus itu ada atau tidak percaya bahwa Yesus akan datang kembali atau entah apa lagi. Padahal kita mempunyai keyakinan kuat bahwa Yesus pasti datang kembali kelak. Dan hasilnya seharusnya adalah kita hidup saleh,  dengan mengharapkan Dia untuk datang kembali setiap saat.

Coba saya bertanya – seandainya Anda tahu bahwa Ia akan datang kembali besok, apakah muncul sesuatu dalam hati Anda, yang perlu Anda ubah? Mungkinkah ada seseorang yang perlu Anda ampuni? Atau hutang yang perlu Anda lunasi? Adakah sesuatu yang perlu Anda ubah dalam kehidupan Anda?

Maksudnya adalah, Anda dan saya seharusnya percaya dan yakin betul bahwa Ia bisa saja datang kembali setiap saat. Jangan sampai ada yang belum tuntas sebelum Ia datang kembali.

Jadi, mengingat hal itu, saya mau kita merenungkan dengan sungguh-sungguh, soal waktu ini. Sebab hal ini menjadi masalah dengan banyak orang. Jadi saya mau Anda melihat sesuatu yang menarik.

Mari kita membuka Matius 24. Dan mari kita membaca ayat 42. Dengarkan apa kata Yesus. Ia sedang berbicara tentang hal-hal yang akan terjadi. Kata-Nya dalam Matius 24:42-44: “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Demikianlah Yesus mau mengatakan bahwa Ia akan datang kembali pada saat yang tidak kita duga. Jadi, bagi orang percaya, kita harus peka dan sadar selalu bahwa Tuhan Yesus Kristus bisa datang kembali kapan saja Ia mau.

Coba baca-lah Matius 25:13: “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Hari maupun saatnya.

Lalu kembali ke Matius 24:36: “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.”

Perhatikan ayat tersebut – Bapalah yang menuntaskan persoalannya, tidak seorang pun tahu kapan Aku akan datang kembali.

Kalau Anda merenungkannya, keseluruhan rentang waktu dari segala yang Allah mau lakukan di dunia ini, telah Ia tetapkan. Jadi, bagi orang percaya, seharusnya kita percaya dan mengakui bahwa Ia bisa datang kembali kapan saja Ia mau. Akan tetapi soal waktu, itu bukan persoalan kita.

Sekarang buka-lah Matius 24:44-47: “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga. Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.”

Perhatikan pertanyaan yang sama diulang-ulang: Kapankah Engkau akan datang kembali? Kapankah Engkau akan datang kembali? Kapankah Engkau akan datang kembali? Dan Yesus melakukan apa? Yesus memfokuskan ulang perhatian mereka kepada fakta bahwa bukan kapan Aku datang kembali, melainkan apa yang seharusnya sedang kamu lakukan ketika Aku datang kembali. Tanggung jawabmu. Kegiatanmu. Gaya hidupmu ketika Aku datang kembali.

Mari buka-lah Kisah Para Rasul 1. Saya sengaja kembali ke sini. Dan saya mau Anda memperhatikan lagi apa yang Yesus lakukan. Sebab seharusnya inilah yang terutama kita pikirkan. Ingat apa kata Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:6-8:

“Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: ‘Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?’” Mereka mau tahu – pada masa ini. Apakah jawab Yesus? “Jawab-Nya: ‘Engkau tidak perlu mengetahui (bukan persoalanmu untuk mengetahui) masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” Lalu apakah yang Yesus lakukan? Memfokuskan ulang perhatian mereka. Kata-Nya: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Setiap kali mereka mau fokus kepada – kapankah Engkau akan datang kembali? Yesus selalu memfokuskan ulang perhatian mereka kepada apa yang seharusnya mereka lakukan hingga Ia datang kembali. Ia berkata – dengarkan – hal itu telah ditetapkan oleh kuasa Allah sendiri. Waktu kedatangan-Nya kembali telah ditetapkan. Menarik bukan? Dan saya rasa, Yesus sendiri mengatakan dalam hikmat Allah, “Bahkan Aku pun tidak tahu.” Saya suka itu. Dan kebenarannya adalah – siapa pun Anda, apa pun yang Anda percayai, tidak seorang pun mengetahui kapan Yesus akan datang kembali. Ia bisa saja datang kembali setiap saat. Akan tetapi tidak seorang pun mengetahui kapan. Bayangkan apa yang akan kita lakukan seandainya Yesus mengatakan, “Lima tahun lagi Aku akan datang kembali.” Kita mungkin tidak akan menyangka akan hal-hal gila yang akan orang lakukan dalam lima tahun mendatang. Mencoba mendapatkan segalanya yang mungkin mereka dapatkan dalam kehidupan. Dan melakukan segalanya yang mungkin mereka lakukan demi memuaskan segala emosi, hasrat. Atau apa pun yang mungkin mereka lakukan.

Dalam hikmat-Nya, Yesus mau jemaat-Nya, orang percaya, selalu peka bahwa Ia bisa saja datang kembali setiap saat. Apa yang memicu kita untuk hidup saleh, misalnya? Apa yang memicu kita untuk melakukan yang sebaik mungkin? Mengetahui bahwa Ia bisa saja datang kembali setiap saat.

Mari kita membuka Wahyu 22. Pada awal pasal ini, ia membicarakan tentang sungai, air kehidupan, dan sebagainya tentang surga. Lalu dalam Wahyu 22:7 dikatakan: “Sesungguhnya Aku datang segera.” Lalu dalam Wahyu 22:12 dikatakan: “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” Lalu dalam Wahyu 22:20 dikatakan: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!

Tunggu dulu. Entah Ia melakukan kesalahan, atau ada penjelasannya. Dan penjelasannya memang ada. Kata “segera” di sini, dalam bahasa Yunani adalah “TACO.” Yang berarti bukan segera dari sudut waktu, melainkan segera dari sudut kecepatan, dalam sekejap mata. Aku datang segera. Dalam sekejap mata, setiap saat.

Masih ingatkah Anda akan apa yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 15:52? Paulus membicarakan tentang kedatangan Yesus kembali dan bagaimana kita diubah dalam sekejap mata? Berapa lamakah sekejap mata itu? Coba pandang saya. Berapa lamakah sekejap mata itu? Secepat itu. Dalam sekejap mata katanya, kita akan diubah. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa Ia akan datang seperti pencuri di malam hari. Tidak mungkin kita memperkirakan kapan Yesus Kristus akan datang kembali.

Perhatikan – dalam perekonomian Allah, dalam waktu menurut Allah, hal besar berikutnya yang akan terjadi adalah, Ia datang menjemput jemaat-Nya. Sebab Ia tidak akan membiarkan kita mengalami murka kesengsaraan yang berat. Sebagian orang mungkin mengatakan, “Nyatanya sekarang kita sedang mengalami masa kesengsaraan yang berat.” Cobalah membaca Kitab Suci. Yang sekarang ini belum lagi setengah dari apa yang akan terjadi kelak.

Jadi, ada orang yang percaya bahwa satu-satunya hal yang akan terjadi adalah, Yesus datang kembali, menghakimi dunia, sudah. Padahal Yesus akan datang menjemput jemaat-Nya. Yesus akan mengeluarkan kita dari semuanya ini. Kalau tidak, tidak masuk akal.

Jadi, ketika Ia menjemput kita dan masa Kesengsaraan yang berat dimulai, semuanya terdapat dalam pasal 24 yang tidak kita mengerti – mengapa ini belum terjadi? Bagaimana dengan ini?

Lalu misalnya, kalau Anda kembali ke pasal 24 dan membaca dalam Matius 24:14:
“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”

Seandainya tidak ada pengangkatan jemaat, Yesus tidak menjemput kita, kita akan mengatakan, “Masih ada 4 miliar orang yang belum diselamatkan. Jadi masih banyak waktu.”

Jadi, yang saya mau Anda lihat adalah ini – ketika Ia mengatakan, “Segera,” yang Ia maksudkan bukanlah besok atau malam ini. Melainkan, ketika Ia datang, Ia akan muncul dalam sekejap mata.

Dan saya mau Anda memperhatikan sesuatu, bahwa, seperti yang telah kita bahas, setiap kali Yesus memfokuskan ulang perhatian mereka dari kapan Ia akan datang kembali, ke apa yang seharusnya mereka lakukan hingga Ia datang kembali.

Jadi mari kita merenungkan dari perspektif Anda dan saya, mari kita merenungkan keseluruhan persoalan tanggung jawab pribadi kita. Kita mempunyai tanggung jawab sebagai pengikut Yesus. Dan Ia mengatakan, “Kita adalah anak-anak Allah.” Dan Ia mengatakan, “Kita bahkan tidak akan dapat membayangkan seperti apa kita nantinya ketika Ia datang kembali.” Akan tetapi Yesus setiap kali memfokuskan ulang perhatian mereka.

Saya rasa, ada 4 kegiatan yang bisa kita lakukan, yang seharusnya kita lakukan hingga Ia datang kembali kelak. Kita tidak perlu mempersoalkan kapan Ia datang kembali. Sebab pertama-tama, Anda tidak mungkin menerkanya. Dan saya mau mengatakan kepada siapa pun yang mendengarkan atau menonton – Anda boleh brilian dengan angka namun kalau Yesus sudah mengatakan bahwa Ia sendiri tidak tahu, hanya Bapa yang tahu … Dan Ia mengatakan bahwa kita tidak perlu mengetahuinya. Ia mengatakannya dengan jelas. Kita tidak perlu mengetahui waktu atau saat kegiatan-kegiatan-Nya. Jadi, lupakan saja urusan waktunya dan ingatlah ini – kita mempunyai setidaknya empat tanggung jawab menakjubkan hingga Ia datang kembali.

Yang pertama adalah, akan ditayangkan di layar. Yaitu setia berjaga-jaga. “Berjaga-jaga apa?” Apa yang Yesus katakan dalam 1 Yohanes 3? Ia berkata, Ia akan datang kembali dan kedatangan-Nya kembali seharusnya memotivasi kita untuk melakukan apa? Untuk hidup saleh. Yaitu, kita harus memperhatikan bagaimana kita hidup. Kita harus memperhatikan bagaimana kesaksian kita. Kita harus memperhatikan – dengarkan – kita harus memperhatikan mereka yang memperhatikan kita. Kesaksian apa yang kita berikan di hadapan mereka? Kata-Nya, “Kita harus setia berjaga-jaga.” Siap sedia menantikan kedatangan-Nya kembali. Mengetahui bahwa Ia bisa saja datang kembali setiap saat. Dan oleh karena itu , saya harus sibuk melakukan panggilan saya hingga Ia datang kembali. Dengan setia berjaga-jaga. Bukan sekadar berjaga-jaga. Melainkan dengan setia berjaga-jaga. Artinya, menjadi pola pikir kita. Bahwa kita ini anak Allah. Kita ini pengikut Yesus. Kita inilah yang Yesus tinggalkan di bumi untuk memberitakan kebenaran Injil agar orang bisa diselamatkan di seluruh dunia. Dengan setia berjaga-jaga. Bukan seharusnya, melainkan memang seharusnya. Dengan setia berjaga-jaga.

Jadi saya kembali menanyakan apa yang sudah saya tanyakan sebelumnya. Kapan terakhir kali Anda serius merenungkan fakta bahwa Yesus pasti datang kembali kelak? Itulah yang seharusnya paling utama dalam pikiran kita. Bukan berarti terus saya pikirkan setiap hari, melainkan kita harus menyadari setiap hari, bahwa Ia bisa saja datang kembali setiap saat. Kita tahu bahwa Ia bisa saja datang kembali setiap saat untuk menjemput salah seorang dari kita atau sekelompok orang dari kita. Ia mengatakan, “Janganlah engkau lupa bahwa Aku bisa saja datang kembali setiap saat dan mengakhiri segalanya.” Itulah yang seharusnya kita sadari.

Kedua, seharusnya kita menanti dengan damai. Seharusnya kita tidak mengkhawatirkannya. Seharusnya tidak ada ganjalan dalam hati kita. Dan sungguh menarik bagaimana hal tertentu bisa terjadi di dunia ini secara politik atau ekonomi atau entah apa lagi, dan orang pada resah. Bagaimana dengan ini? Bagaimana dengan itu? Bagaimana dengan yang lain? Padahal, apa kata Paulus dalam Filipi 4:6?
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Paulus berkata, Ia akan mengelilingi Anda, menjagai Anda, dengan damai sejahtera yang melampaui segala akal.

Allah tahu dan terutama pada hari surat itu ditulis – itu adalah masa yang kacau. Roma seumpama sepatu bot baja yang menginjak orang Yahudi pada waktu itu. Mereka saling membenci. Jadi ada saja konflik atau perang, bukan di luar, melainkan di Israel. Dan mereka merasa seperti budak Roma.

Akan tetapi Paulus menasihatkan … Kita harus damai. Mengapa? Sebab kita tahu siapa kita – kita adalah putra-putri Allah yang hidup. Sebab kita tahu bahwa kita mempunyai karunia hidup yang kekal. Sebab kita tahu bahwa nama kita telah dituliskan dalam Kitab Kehidupan Anak Domba. Kita tahu kita didiami oleh Roh Allah yang berkuasa untuk melakukan segala sesuatu. Kita tahu bahwa Ia selalu menyertai kita. Ia akan menyediakan apa yang kita butuhkan. Ia akan melindungi kita. Ia akan menjagai kita. Alkitab mengatakan bahwa Allah peduli kepada kita. Kita berhak untuk damai.

Hal ketiga adalah, kita sudah banyak membahasnya. Seharusnya kita giat bekerja. Dan perhatikan bacaan dalam Matius – Ia memfokuskan ulang perhatian mereka, juga dalam Kisah Para Rasul, dari kapan, menjadi, apa yang seharusnya mereka lakukan.

Jadi, tanyakan kepada diri sendiri, sebagai pengikut Yesus, sadarilah fakta bahwa Ia pasti datang kembali. Ia telah memberi Anda rentang usia dan latar belakang dan pendidikan dan segala yang Anda miliki. Menurut Kitab Suci, apa yang seharusnya Anda dan saya lakukan hingga Ia datang kembali? Dengan giat melayani Dia. Dengan giat bekerja. Dan, atas dasar bahwa Yesus Kristus bisa saja datang kembali setiap saat, seperti pencuri di malam hari, saya mau bertanya, “Apa yang Anda lakukan? Apa yang Anda lakukan, yang termasuk pelayanan
Kepada Allah?

Anda tidak perlu berkhotbah dan bernyanyi dan bermain drama dan pergi ke lapangan misi demi melayani Allah. Akan tetapi saya bertanggung jawab dan Anda bertanggung jawab di hadapan Allah yang Kudus untuk hidup saleh dan melayani Dia hingga kita menghembuskan nafas yang terakhir. Dengarkan – dapatkah Anda memberi saya alasan yang sesuai dengan Alkitab, untuk tidak melayani Allah hingga akhir hayat Anda? Tidak mungkin. Jadi, sebaiknya Anda menyibukkan diri. Kapan Ia akan datang kembali? Entah. Persoalannya bukan kapan. Dengarkan – perhatikan – ini sederhana sekali. Persoalannya bukan kapan. Melainkan taat kepada Anak Allah yang mati di kayu salib demi memungkinkan kita diselamatkan.

Terakhir, seharusnya kita menyembah Dia dengan sukacita. Renungkan ketika Anda ke gereja pada Minggu pagi atau entah kapan. Anda berjumpa dengan teman-teman. Di kota-kota besar, Anda kebanyakan berjumpa dengan teman ketika ke gereja. Kita bernyanyi bersama, kita bersukacita, kita memuji Tuhan.
Dan semua kidung yang kita nyanyikan dan lagu-lagu yang kita nyanyikan adalah hal-hal yang kita percayai. “Ketika kita semua masuk surga kelak,” “Betapa kokohnya fondasi,” semua kidung seperti itu. Kita bisa menyebutkan banyak lagu seperti itu. Dan apa yang terjadi? Kita berkumpul. Kita bersekutu. Kita menyembah bersama. Kita bernyanyi, kita memberi, kita berdoa, kita ditantang, kita belajar. Dan apa yang terjadi? Kita keluar untuk melakukan apa? Melayani Allah yang hidup, sadar setiap saat.

Yesus bisa saja datang menjemput saya setiap saat. Ia bisa saja datang kembali setiap saat. Ia berkata seperti pencuri di malam hari. Kalau saja tubuh Kristus menangkap pesan bahwa Yesus pasti datang kembali dan bahwa kita bertanggung jawab hingga hembusan nafas terakhir, untuk memberitakan pesan-Nya dengan cara apa pun yang Ia mau kita gunakan. Saya akan menjelaskan apa yang akan terjadi. Sesuatu akan terjadi kepada Anda. Sebab Anda akan mulai menyadari – perhatikan – bukankah waktu cepat berlalu? Baru tanggal 1 Januari. Tahu-tahu sudah Paskah. Tahu-tahu musim panas. Tahu-tahu Hari Raya Pengucapan Syukur. Tahu-tahu Natal. Dan tahun baru lagi. Waktu sungguh cepat berlalu. Pertanyaannya adalah – bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda? Menghabiskannya atau menginvestasikannya? Dan saya berdoa agar Anda sadar akan kedatangan Tuhan Yesus Kristus kembali kelak dan agar Anda menjadikan setiap hari Anda berarti. Seandainya waktu Anda tinggal 30 hari saja, Anda akan menjadikan setiap hari Anda berarti, bukan? Kalau saya mengasihi Dia, saya akan menjadikan setiap hari saya berarti, amin?

Mari kita berdoa.
Bapa, betapa bersyukurnya kami bahwa Engkau demikian sabar kepada kami, Tuhan. Betapa bersyukurnya kami atas kasih-Mu, kebaikan-Mu, rahmat-Mu, kesabaran-Mu, kemurahan-Mu. Tanamkanlah kebenaran-kebenaran-Mu ke dalam hati kami, sehingga kehidupan kami mulai berarti dengan cara-cara yang tidak seperti sebelumnya. Agar kami memandang diri kami sungguh sebagai hamba-Mu – bekerja, menyembah, berjaga dan menanti. Mengetahui bahwa suatu hari kelak Engkau akan memanggil kami entah secara individual atau ketika Engkau menjemput kami semua sebagai tubuh Kristus. Kami mau kehidupan kami berarti. Tunjukkanlah bagaimana cara menjadikan kehidupan kami berarti karena Engkau telah memberi Roh Kudus bagi kami untuk memampukan kami, menjadikan kehidupan kami berarti. Dan kami berdoa dalam nama Yesus, Amin.