Dr. Stanley's 30 Life Principles
Prinsip Kehidupan 1 - Keintiman Kita dengan Allah
Firman Tuhan terambil dari : Mazmur 63:2-9
Apakah Anda menyadari bahwa Allah mempunyai rencana menjadikan Anda serupa dengan Anak-Nya melalui kehidupan Anda? Apakah Anda menyadari agar hal itu terjadi, Ia harus menyatakan diri-Nya kepada Anda, kemudian membawa kita ke dalam hubungan yang intim dengan Dia?
Hubungan yang intim dengan Dia merupakan prioritas tertinggi. Hal itu menuntut sesuatu dari kita, dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Misalnya, ketika Anda mempunyai hubungan yang benar dengan Dia, atau kalau Anda mempunyai hubungan yang buruk dengan Dia -- dari sanalah mengalir segala sesuatu lainnya dalam kehidupan Anda. Jadi, hubungan Anda dengan Dia menentukan bagaimana Anda menjalani kehidupan ini. Apakah kehidupan yang benar atau kehidupan yang salah -- semuanya berhubungan dengan hal itu.
Jadi, jika saya bertanya hari ini, “Apakah Anda mempunyai hubungan yang intim dengan Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus?” Nah, sebagian orang mungkin menjawab, “Ya tidak tahu juga ya.” Atau jawabannya mungkin malah.., “Saya bahkan tidak tahu apa keintiman itu.”
Biasanya, ketika kita memikirkan tentang keintiman, yang terbayang keintiman seksual. Di sinilah sebagian besar orang membayangkannya -- apa yang Anda lihat, apa yang Anda sentuh, apa yang Anda rasakan. Padahal, semua itu hanya di permukaan saja. Keintiman itu jauh lebih mendalam dari apa yang Anda lihat, apa yang Anda sentuh, dan apa yang Anda rasakan.
Dalam pesan hari ini, yang akan saya bahas adalah; apa artinya memiliki hubungan yang intim dengan Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus? Sebagian orang sulit mempraktekkannya, alasannya begini... Mereka akan mengatakan, “Ya, kalau Allah memang seperti yang Ia nyatakan, mahakudus dan mahakuasa, berdaulat dalam segala sesuatu -- bagaimana mungkin saya, seorang berdosa, punya hubungan pribadi, yang intim dengan Allah yang Kudus? Bagaimana mungkin?”
Itulah yang ingin saya jelaskan. Sebab hubungan pribadi yang intim dengan Allah yang Maha Kudus bukanlah suatu hal yang tidak mungkin.
Sudah menjadi kehendak Allah bagi setiap anak-Nya untuk memiliki hubungan yang intim dengan Dia. Itu berarti, diselamatkan saja tidaklah cukup. Sekadar ke gereja, membaca Alkitab dan segalanya yang lain itu saja tidaklah cukup. Yang penting adalah hubungan.
Sayang kita hidup di jaman dimana sebagian besar orang tampaknya sulit memiliki hubungan. Ada segala macam hal yang berlangsung dalam kehidupan orang-orang, tetapi keintiman bukanlah salah satunya.
Mari kita buka Mazmur 63. Kalau ada orang dalam Perjanjian Lama yang jelas memiliki hubungan yang intim dengan Allah, itu adalah Daud. Apakah Daud sempurna? Tidak. Ia seorang berdosa sama seperti kita semua telah berdosa terhadap Allah.
Saya ingin Anda melihat, bagaimana ungkapan hati Daud. Beginilah bukti hubungannya yang intim dengan Bapa. Mazmur 63:2-9 mengatakan:
“Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji. Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, - sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai. Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.”
Demikianlah ekspresi hati seorang yang puas, bukan karena tempat, bukan karena ketenaran, bukan karena prestise dan semuanya itu; demikianlah hati seorang yang lapar akan Allah.
Dapatkah Anda juga mengatakan lapar akan Dia? Dapatkah Anda mengatakan bahwa yang terpenting dalam kehidupan adalah hubungan Anda dengan Dia? Dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda menginginkan Dia lebih daripada siapa pun, atau apa pun, atau peluang apa pun? Apa yang pertama dan terutama? Apakah hubungan intim dengan Dia?
Keintiman berbicara tentang kedekatan, kesatuan, persatuan. Saya ingin kita menelaah, seperti apa keintiman yang nyata, yang sejati. Tentang apakah keintiman itu? Daud dalam mazmurnya telah menyatakan, ia lapar dan haus, ia mendambakan Allah yang Mahakuasa.
Mungkin ada yang menanyakan, “Soal apa sih kelaparan ini?” Dengarkan baik-baik, sebab ini mungkin salah satu pesan terpenting yang pernah Anda dengar dalam kehidupan Anda. Kalau Anda tidak memahami apa yang akan saya jelaskan, Anda akan menjalani kehidupan tanpa mengetahui maksud sesungguhnya Allah menciptakan Anda.
Allah berfirman, “Marilah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, sehingga Kita bisa berhubungan dengan dia dan dia dapat memahami siapa Kita; dan Aku dapat mengasihi dia, menghujani kebaikan dan kemurahan sebagaimana Aku adanya.” Itulah maksud Allah.
Jadi, seperti apa keintiman itu? Pertama, keintiman itu adalah hubungan keintiman rohani. Lebih dalam daripada keintiman jasmani. Sebab Anda dan saya memiliki Roh Kudus yang hidup dalam diri kita. Kita diberi kehormatan dan kuasa untuk berhubungan dengan Roh Allah.
Ketika Anda menjadi orang percaya, Roh Allah datang ke dalam kehidupan Anda. Untuk melakukan apa? Untuk memampukan Anda, memperlengkapi, memberdayakan, memberi Anda petunjuk, bimbingan dan segala yang Anda perlukan dalam menjalani kehidupan ini.
Ketika Anda dan saya tunduk kepada Roh Allah yang hidup dalam diri kita, kita bisa mulai mengembangkan hubungan dengan Dia, hubungan antara roh kita dengan Roh-Nya. Tidak ada kaitannya dengan hal-hal lain. Bukan dengan meminta ini itu kepada Allah, melainkan dengan mengembangkan hubungan itu. Jadi, semuanya diawali dengan hubungan pribadi.
Kemudian, ketika kita membicarakan tentang hubungan pribadi, sesungguhnya mengenai apakah itu? Hubungan pribadi bicara mengenai sikap yang terbuka, jujur dan bebas. Kita tidak menyembunyikan apa pun. Kita menjadi diri kita apa adanya. Renungkan, ketika Anda sering berdoa dan menyampaikan hal-hal yang ingin Dia ketahui, apakah Anda hanya mengaku sampai pada batas tertentu? Apakah Anda sungguh-sungguh bertobat?
Keintiman mengatakan, “Inilah hatiku. Aku bersedia membuka diriku di hadapan-Mu; hatiku, jiwaku, rohku dan segala aspek kehidupanku. Aku mau Engkau melihat keseluruhan diriku. Aku mau Engkau mengetahui, tidak ada sesuatu apa pun yang aku tutup-tutupi.” Inilah hubungan pribadi. Inilah keintiman.
Hubungan pribadi, hubungan yang intim, tidak berjalan tanpa aspek mempercayai. Bayangkan, hubungan Anda dengan suami atau istri Anda... Kalau Anda tidak mempercayai pasangan Anda, mungkinkah terjalin hubungan yang intim?
Keintiman mengatakan; aku bersedia mempercayaimu. Seseorang yang tidak mau menyerahkan kehidupannya kepada Allah, itu karena dia tidak mempercayai-Nya. Mungkin Allah minta dia melakukan sesuatu yang tidak mau ia lakukan, atau Allah minta dia melakukan sesuatu yang dia pikir tidak mampu dia lakukan. Kalau saya mempercayai Allah, saya akan mentaati-Nya. Dan kalau saya mentaati-Nya, itu adalah karena saya mengasihi-Nya.
Tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah aku benar-benar mempunyai hubungan yang intim dengan Allah? Apakah aku benar-benar mempercayai-Nya? Apakah hubungan ini bukan semata-mata di gereja, melainkan hubungan antara aku dengan Allah yang Mahakuasa?” Bukan saja harus ada kepercayaan, melainkan juga ada kasih dalam hubungan itu.
Mari kita renungkan Mazmur 42:2-3, bagaimana hubungan sang Pemazmur yang pribadi, intim, begitu mengasihi Bapa. “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair …” Mungkin ia habis berlari, lari, lari, terus berlari, mungkin dikejar oleh serigala atau hewan buas lainnya. Ia merindukan sungai yang berair, “… demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup.”
Dapatkah Anda mengatakan; Anda haus akan Dia? Dapatkah Anda mengatakan; Anda lapar akan Dia? Dapatkah Anda mengatakan; Anda benar-benar mengasihi-Nya?
Saya akan menceritakan sejujurnya pada Anda, suatu peristiwa yang saya ingat. Saya tidak tahu persis harinya, tetapi saya ingat kejadian itu berlangsung beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang berdoa, saya mengatakan kepada Allah bahwa saya mengasihi-Nya. Tiba-tiba terjadi suatu hal yang belum pernah saya alami sebelumnya. Seolah-olah ada kelereng dalam mulut saya. Akhirnya, yang terucap, “Ya Allah, entah aku mengasihi-Mu atau tidak. Kedengarannya memang baik, sudah lama kukatakan, ’Aku mengasihi-Mu ya Allah’. Tetapi sepertinya, rohku tidak mengatakan demikian.”
Pada hari itu, seakan-akan Roh Allah mengacaukan perkataan saya, menyadarkan saya bahwa sebenarnya saya tidak tahu apa yang sedang saya katakan.
Saya mulai menyadari bahwa saya tidak benar-benar mengasihi-Nya seperti yang Dia inginkan. Saya hanya merasa sayang kepada-Nya. Lalu Tuhan membukakan mata saya, membantu saya melihat bahwa entah kenapa saya sulit menerima kasih-Nya yang tidak bersyarat. Mungkin karena saya dibesarkan dengan kepercayaan bahwa saya tidak pantas mendapatkan kasih-Nya. Saya harus berjasa untuk mendapatkan kasih-Nya.
Dan pada hari itu saya sadar, ternyata saya tidak benar-benar mengasihi-Nya. Saya hanya merasa sayang kepada-Nya. Peristiwa itu adalah awal kesadaran saya tentang bagaimanakah kasih yang sejati kepada Allah itu.
Hal lain yang juga saya renungkan adalah tentang keterbukaan dalam suatu hubungan. Anda tidak mungkin mempunyai hubungan yang intim dengan seseorang ketika Anda menyimpan rahasia darinya.
Renungkanlah, bagaimana gaya hidup orang yang tidak terbuka, tidak jujur, tidak transparan? Bagaimana mungkin Anda punya hubungan dengan orang yang menyimpan rahasia ini dan itu dari Anda? Tidak mungkin terjalin hubungan yang intim tanpa kepercayaan.
Jadi, renungkanlah -- ketika Anda berdoa dan berbicara kepada Tuhan, apakah Anda sepenuhnya membuka hati? Apakah Anda mengatakan kepada-Nya, “Ya Tuhan, aku tahu aku telah berdosa terhadap-Mu. Maka seperti Firman-Mu dalam 1 Yohanes 1:9, ampunilah dosa-dosaku. Dalam nama Yesus. Amin.”
Itu tidak akan berhasil.
Hati yang jujur, terbuka akan mengatakan, “Ya Allah, hari ini aku benar-benar bernafsu. Hari ini aku benar-benar berprasangka. Hari ini aku seharusnya tidak membuka mulutku dan mengatakan hal itu. Hari ini aku sangat mengkritik.”
Hari ini, apa pun itu, semestinya Anda ungkapkan. Keterbukaan, kejujuran, dan ketulusan. Itulah yang Allah inginkan.
Keintiman terjalin dua arah. Allah ingin Anda mengenal Dia. Dia mengenal Anda sepenuhnya. Dia menciptakan Anda untuk menyatakan diri-Nya melalui Anda, karena Dia ingin mengungkapkan kasih-Nya. Dia Allah yang penuh kasih dan menakjubkan. Dia ingin mengungkapkannya. Dia bergairah untuk mengungkapkannya. Dan Dia mau kita melakukan hal yang sama.
Tanpa keterbukaan dan ketulusan, Anda tidak akan mempunyai keintiman.
Hal itu mengantarkan saya kepada persoalan berikutnya, yaitu -- hubungan harusnya terjalin dua arah. Dengar baik-baik. Jika saya bertanya, “Apakah Anda berdoa?”
“Ya.”
“Ketika Anda berdoa, Anda terutama mendoakan apa?”
Kemungkinan besar Anda menjawab, “Dengan sendirinya mendoakan kebutuhan-kebutuhan saya.” Atau, “Saya mendoakan teman-teman yang sakit.”
“Nah, ketika Anda berdoa, berapa lama Anda berdoa? Apa yang Anda doakan?” Kemudian, “Setelah Anda selesai berbicara, berapa lama Anda mendengarkan?” Renungkan.., Anda tidak mungkin mempunyai hubungan yang intim kalau hanya Anda yang berbicara saja.
Jadi, kapan terakhir kalinya Anda berdoa? Apakah Anda mengambil jeda waktu, lalu mengatakan, “Demikianlah perasaanku, Tuhan, dan aku mau mendengar apa yang Engkau ingin sampaikan.”
Mungkin Anda mengatakan, “Oh, mana mungkin Allah berbicara kepada saya?” Mungkin saja. Roh-Nya berbicara kepada roh Anda, tetapi Anda harus mau mendengarkan, memberi Dia waktu untuk berbicara.
Jika Anda berdoa kepada-Nya, lalu langsung bangkit berdiri, kemungkinan besar Anda bahkan tidak bersujud. Kalau Anda sekadar berdoa, dan kemudian tertidur, Anda tidak mendengarkan Allah. Anda hanya menyuarakan perasaan Anda.
Keintiman berarti saya harus bersedia mendengarkan-Nya, mendengarkan apa yang ingin Ia katakan? Ini berkaitan dengan waktu yang diluangkan dan upaya untuk mengenal Allah. Ketika orang mengatakan, misalnya, “Saya ingin membaca Alkitab, tetapi saya sibuk sekali. Saya tidak ada waktu,” atau, “Saya tahu, seharusnya saya melewatkan waktu lebih banyak dalam doa, tetapi saya tidak ada waktu. Saya tidak ada waktu, saya tidak ada waktu, saya tidak ada waktu.” Apakah hubungan yang intim akan terjalin?
Renungkanlah apa yang Anda katakan. Anda mengatakan kepada Allah alam semesta ini, sang Pencipta. Anda mengatakan kepada Yang Berdaulat dari alam semesta ini, Penopang kita. Anda mengatakan kepada Allah yang Mahakuasa ini, Hakim Agung kita. Tetapi, Anda tidak ada waktu bagi Dia? Anda tidak punya waktu bagi Sumber dari segala hal yang Anda miliki? Anda tidak punya waktu bagi Dia yang menginginkan hubungan yang intim dengan Anda?
Hubungan yang intim memang memerlukan waktu. Tentu artinya semua tidak terjadi begitu saja dalam semalam.
Saya cukup beruntung sempat berkunjung ke rumah kakek saya ketika saya berusia kira-kira 17 tahun. Anda mungkin pernah mendengar cerita saya ini. Pulang dari rumah kakek, saya merasa betapa kayanya saya karena mendengar apa yang kakek katakan. Salah satu hal paling mengesankan yang saya dengar dari kakek saya adalah; Allah berbicara kepada kakek, dan kakek mendengarkan Allah. Dan kakek mulai menceritakan pada saya, semua hal yang telah Allah karyakan dalam kehidupannya.
Dan ketika saya pulang, pertanyaan saya adalah, “Ya Allah, jika Engkau berbicara kepada kakek seperti itu, maukah Engkau berbicara kepadaku? Jika Engkau berkarya dalam kehidupan kakek, bagaimanakah Engkau akan berkarya dalam kehidupanku? Aku mau mendengar-Mu, ya Allah. Aku mau Engkau menunjukkan kebenaran kepadaku.”
Apakah kemudian hal itu terjawab dalam semalam? Tidak. Akan tetapi saya membaca Firman dan mulai meminta, “Ya Tuhan, berbicaralah ke dalam hatiku. Tunjukkanlah kepadaku. Tolonglah aku mengerti suara-Mu ketika memang Engkau yang berbicara dan bukan pikiranku sendiri. Berilah aku pengertian, ya Tuhan.”
Allah menjadikannya sangat jelas bahwa Ia akan menunjukkan kebenaran tentang diri-Nya. Ia akan menunjukkan kebenaran tentang diri-Nya melalui Firman-Nya, namun Ia juga akan menunjukkan kebenaran tentang diri-Nya dalam kehidupan ini. Dia berbicara ke hati setiap orang yang ingin mendengarkan, pada roh yang ingin mendengarkan. Jadi, kenapa orang mengambil keputusan-keputusan yang keliru, itu karena tidak mendengarkan Dia.
Satu hal yang pasti, Allah tidak akan pernah mengecoh Anda. Anda tahu mengapa saya mengetahui hal itu? Sebab Dia adalah Allah yang suci, benar, dan setia. Dia tidak mungkin memperdayai, Dia tidak mungkin mengecoh, Dia tidak mungkin melakukan apa pun yang berlawanan dengan siapa Dia. Allah ini hidup di dalam diri Anda dalam bentuk Roh Kudus. Untuk apa? Sebab Roh-Nyalah yang berbicara kepada roh kita. Kehidupan-Nya terhubungkan dengan kehidupan kita.
Mungkin Anda mengatakan, “Saya tidak layak untuk semuanya itu.” Bila lain kali Anda merasa seperti itu, ingat saja bahwa salib Kristus adalah kesaksian tunggal dan final tentang kasih-Nya yang tidak bersyarat, yang menakjubkan, bagi Anda, apa pun yang terjadi. Allah sungguh peduli kepada Anda dan mau mengkaryakan kasih karunia, kasih dan rahmat-Nya, dalam kehidupan Anda.
Demikianlah ciri-ciri hubungan intim yang sejati.
Mungkin muncul kemudian satu pertanyaan, “Baik.. Begitu saya mempunyai hubungan itu, apa yang dapat saya rasakan? Kesan apa yang saya peroleh?”
Saya akan menjelaskannya dalam beberapa kata. Pertama – stabilitas. Ketika seseorang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan, seolah-olah ada sauh atau jangkar sehingga badai apa pun yang menerpa Anda, Anda akan baik-baik saja karena Anda tahu Allah hadir di dalam badai itu menyertai Anda. Ada rasa tenteram – yang menghalau ketakutan. Sebab Dia tidak jauh di atas sana, melainkan di dalam Anda. Dan Anda memiliki hubungan yang intim dengan-Nya.
Jadi ada ketenteraman, ada stabilitas, ada ketenangan, keteduhan dalam roh Anda. Sehingga apa pun yang terjadi, Anda tetap merasa teduh, tenang dan kepuasan sebab Anda berbicara kepada-Nya. Anda mendengarkan-Nya. Anda telah membangun hubungan yang intim itu.
Juga ada kepekaan. Perhatikan baik-baik. Bukan saja kepekaan terhadap Tuhan melainkan juga, ketika Anda mempunyai hubungan yang intim dengan Dia, Anda akan menemukan diri sangat peka terhadap orang lain. Maksud saya, belum tentu terhadap kritik mereka, walaupun mungkin termasuk itu.
Anda akan peka terhadap kebutuhan-kebutuhan mereka, luka batin mereka, kepribadian mereka. Dengan kata lain, karena Allah ada di dalam Anda, Ia memaklumi orang lain melalui Roh-Nya. Ia memaklumi kebutuhan-kebutuhan mereka – kebutuhan-kebutuhan emosional, kebutuhan-kebutuhan rohani – Ia menyaksikannya. Dan yang mungkin mereka lakukan hanyalah mengakui jasa kita. Padahal mereka tidak sadar, itulah Allah yang berkarya dalam kehidupan mereka.
Kepekaan itu juga berkaitan dengan pemahaman rohani. Ketika Anda mulai mengembangkan keintiman ini, Anda akan mulai memahami Firman Allah dengan cara-cara yang belum pernah Anda alami sebelumnya. Mengapa? Sebab Allah ingin Anda mengerti.
Alkitab bukanlah buku misteri. Bukan buku filosofi. Melainkan kitab kebenaran yang menjelaskan sikap dan hati Allah yang Mahakuasa. Kita sudah membahas sejak awal – Ia menciptakan kita untuk mempunyai hubungan dengan Dia. Hal itu menuntut-Nya untuk menyatakan diri kepada kita terutama melalui Firman-Nya, melalui roh kita, dan membawa kita ke dalam hubungan yang intim dengan Dia.
Ada tiga hambatan dalam menjalin hubungan yang intim ini. Pertama adalah kesombongan. Contoh, tidak berdoa karena aku sanggup menanganinya sendiri. Tidak meminta kepada-Nya, aku akan membereskannya. Itulah kesombongan.
Alasan orang tidak bersujud, kecuali oleh karena masalah jasmani, adalah karena kesombongan. Bagaimana Anda bisa terlalu sombong untuk bersujud di hadapan Allah yang Maha Kudus, yang Benar dan Berdaulat? Setiap nafas Anda adalah karunia dari-Nya.
Mungkin seseorang mengatakan, “Saya tidak perlu bersujud.” Pertanyaan saya, apakah Anda tidak merasa perlu menghormati Allah? Tidak merasa perlu takut akan Dia? Kelak, Anda akan melihat akibatnya.
Kesombongan itulah yang menghalangi kita bersujud. Kesombongan yang membuat kita tetap tinggal di dalam dosa. Kita memilih berhubungan dengan seseorang daripada dengan Allah.
Hambatan kedua adalah pemberontakan. Dosa. Selama ada dosa dalam kehidupan kita, tidak akan ada keintiman dengan Allah. Ketika orang mengatakan, “Saya sudah berdoa, namun tidak terjadi apa-apa. Saya sudah berdoa namun Allah tidak menjawab saya.” Periksalah diri Anda sendiri, tanyakanlah, “Siapa yang menjadi masalahnya?”
Bukan Allah tetapi Anda sendiri.
Tidak akan ada keintiman selama ada pemberontakan. Renungkanlah – dapatkah Anda mempunyai hubungan yang intim dengan suami atau istri yang memberontak terhadap Anda? Tidak mungkin. Demikian juga, Anda tidak mungkin mempunyai hubungan yang intim dengan anak-anak Anda kalau mereka memberontak.
Hambatan ketiga, yang terakhir, sangat sederhana – ketergesa-gesaan. Kalau Anda tergesa-gesa, Anda tidak akan mengembangkan hubungan yang intim dengan Allah. Diperlukan waktu. Waktu untuk membaca Firman-Nya, merenungkannya, mengajukan pertanyaan, “Apa yang Engkau mau katakan kepadaku, Allah? Bagaimana hal ini berlaku bagi kehidupanku, Tuhan? Apakah ini peringatan? Apakah ini sesuatu yang aku perlu periksa dalam kehidupanku? Terima kasih atas janji yang mengagumkan ini, Tuhan.”
Waktu untuk membaca. Waktu untuk berbicara kepada-Nya. Waktu untuk mendengarkan Dia. Betapa pentingnya itu. Beginilah yang akan terjadi – semakin Anda mendengarkan, semakin Anda akan mendengar. Dan semakin Anda mendengar, semakin giranglah Anda jadinya. Dan semakin Anda girang, semakin banyak waktu yang ingin Anda luangkan untuk mendengarkan Dia.
Kalau Anda jatuh cinta kepada seseorang, Anda suka mendengarkan perkataannya, bukan? Semakin Anda mengasihi Allah, semakin Anda ingin mendengarkan. Ia bersedia memberitahukan lebih dari yang Anda harapkan.
Karena saya mengetahui bahwa Allah telah memberikan Anak-Nya demi saya, saya tahu Ia akan memberi saya segala informasi dan segala hal lain yang saya perlukan. Dan itulah yang Paulus maksudkan dalam Roma 8:32 ketika ia mengatakan, setelah memberi kita Anak-Nya, Yesus Kristus, kebaikan apa lagi yang akan Ia tahan untuk kita? Tidak ada.
Mengingat semuanya itu, akankah Anda mengatakan bahwa Anda mempunyai hubungan yang intim dengan Allah? Atau, apakah Anda terpaksa mengatakan, “Saya telah melewatkannya?”
Mungkin Anda bertanya, “Kapan saya memulainya?”
Saat ini juga.
Renungkanlah, kita semua, suatu hari kelak, di mana pun kita berada, berapa pun usia kita, jantung kita akan berhenti berdetak lalu kita berjumpa dengan Bapa. Apakah Bapa akan menjadi orang asing bagi Anda?
Atau, apakah Anda mau mempunyai hubungan yang intim selagi Anda masih hidup di bumi ini, di mana kehidupan Anda bisa berdampak terhadap orang-orang di sekeliling Anda? Bukan karena apa yang Anda lakukan, melainkan karena apa yang sanggup Dia lakukan melalui Anda?
Mari kita berdoa...
Bapa, betapa bersyukurnya kami, ketika kami merenungkan betapa Engkau – Allah yang sempurna, kudus, menakjubkan, tetapi ingin menjalin hubungan pribadi yang intim dengan orang berdosa seperti kami. Karena darah Anak-Mu yang telah membasuh kami dan mengkuduskan kami, kami menjadi layak untuk menjalin hubungan yang intim dengan-Mu.Kami berdoa bagi setiap orang yang mendengar pesan ini – ciptakanlah ketidak-puasan yang kudus, yang menakjubkan, di dalam hati mereka, di mana pun mereka berada. Ciptakanlah rasa lapar untuk mengenal-Mu lebih dalam lagi dari yang sebelumnya. Kami berdoa dalam nama Yesus, Amin.
|