Bau air asin menjadi semakin kuat seiring saya memutari belokan menuju tempat pengungsian rahasia saya. Menuruni bukit yang curam dengan gumpalan es, saya berjalan ke lubang kecil yang terpahat di dalam karang yang terjal oleh angin-angin kencang.  Saya harus melarikan diri ke suatu tempat yang jauh dari kekacauan hidup yang terus menerus di dalam sebuah rumah yang penuh dengan pelecehan, penolakan, rasa malu, dan tipu daya. Jauh dari seorang ibu yang membenci saya dan seorang ayah yang bengis yang membuat rumah kita menjadi medan perang setiap harinya.

   Apakah Engkau sungguh mengenal aku, Tuhan? Apakah Engkau di sana?
   Saya berlari menuju pantai, pertama kali saat saya berumur tujuh tahun, kemudian lebih dari seratus kalinya setelah itu. Kadang-kadang saya baru saja dikutuki dan dipukuli tanpa belas kasihan oleh ibu saya; di lain waktu kedua orang tua saya bertengkar satu sama lain sampai salah satu memar atau berdarah. Namun, suatu hari ayah saya mau ikut dengan saya, berharap hembusan angin laut akan membawa kedamaian kepada jiwanya yang galau. Pada suatu malam, kami berjalan sepanjang garis pantai waktu matahari terbenam. Bintang-bintang mulai muncul di langit yang gelap, dan ayah saya memperhatikan mereka di saat ia menceritakan kepada saya sebuah cerita yang tidak pernah saya lupakan.

   Dahulu kala langit di malam hari dipenuhi oleh bintang-bintang yang bersinar terang. Hal yang perlu kita lakukan adalah melihat pada terangnya untuk mencari jalan kita. Ada begitu banyaknya bintang yang membagikan cahayanya sehingga tiada seorangpun yang tersesat. Sampai kemudian suatu hari, beberapa bintang lupa bagaimana caranya untuk bercahaya satu sama lain.

next page