SAYA TERTEGUN
   Pada akhir kebaktian, pendeta memberikan saya sebuah Alkitab, dan saya memulai perjalanan saya menemukan bagaimana Tuhan bisa menjadi orang-tua yang tidak pernah saya miliki.
   Ketika saya melihat ke belakang dan melihat dari mana asal saya, saya memikirkan ayat Mazmur 18:24, yang diungkapkan di dalam pesan: ”Tuhan membentuk kembali hidupku ketika aku membuka hatiku di hadapan-Nya.”

   Walau saya dibesarkan oleh seorang ibu yang kasar yang tidak menginginkan anak-anaknya dan seorang ayah yang pecandu alkohol yang juga menganiaya keluarganya, Bapa surgawi memperlihatkan kepada saya bahwa Ia akan menyediakan setiap kebutuhan saya yang saya serahkan kepada-Nya – termasuk hal-hal yang berhubungan dengan ayah maupun ibu. Ayat Mazmur 27:10 sungguh menjadi nyata: ”Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun Tuhan menyambut aku.”

       Semakin saya berserah kepada-Nya, semakin hidup saya diubahkan. Ketika saya mengijinkan Tuhan menjadi pusat dari hati saya, saya mulai menemukan jalan pulang saya kembali, mengetahui siapa saya sesungguhnya, siapa yang memiliki saya, dan bagaimana saya bisa memancarkan kasih-Nya kepada orang-orang lain.

   Bagi saya, perjalanan pulang itu dimulai dengan sebuah kata: Percaya.
   Saya mulai percaya bahwa apa yang firman Tuhan katakan adalah benar (Yohanes 19:35).
   Apa yang dikatakan firman Tuhan tentang siapa saya?
   Saya adalah anak Allah (I Yohanes 3:1)
   Saya tinggal di dalam Dia. Dia tinggal di dalam aku. (Yohanes 14:23; 15:4).

Saya diciptakan serupa dengan Dia, dan saya dikenal, diterima, dan dikasihi (Mazmur   139:1-16).

   Dan apa yang Tuhan katakan tentang diri-Nya?
   Ia sekali-kali tidak akan meninggalkan aku, Dia selalu menyertai aku (Ibrani 13:5; Matius 28:20).
   Rancangan Tuhan buat saya adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29:11).
   Dia tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya  (Ibrani 13:8)

 
    Tuhan tidak pernah berjanji untuk mengambil setiap badai, namun Dia sungguh berjanji untuk berjalan bersama-sama saya melalui segala sesuatu yang harus saya hadapi (Yesaya 43:1-2).

   Dia mempunyai otoritas atas saya. Beberapa orang berkata bahwa otoritas mengikat, melumpuhkan, dan membatasi pengungkapan diri sendiri. Namun bagi saya, batasan-batasan Tuhan merupakan ruangan-ruangan yang terbuka lebar yang mana aman untuk mengetahui siapa saya di dalam Dia. Dia membebaskan saya!
                                  
- Christina DiMari

previous page