Timotius telah mencapai suatu titik dari keputusasaan. Menjadi seorang gembala sidang dari sebuah gereja besar adalah cukup banyak tuntutannya. Namun, menjadi seorang pendeta muda dari sebuah gereja yang bertumbuh di salah satu kota yang paling banyak penyembah berhala yang ada pada saat itu merupakan hal yang mengerikan dan melelahkan tentunya. Inilah yang membuat surat-surat Rasul Paulus menjadi lebih penting dan relevan.

   Sementara hikmat rohani dan petunjuk dari Rasul Paulus menjadi kunci dari keberhasilan Timotius, sang rasul menunjukkan satu faktor lain sebagaimana ia mendorong anak didik mudanya untuk tidak menyerah: “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Euneke dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Tuhan yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (II Timotius 1:5-7).

   Rasul Paulus mengetahui kata-kata yang tepat untuk diucapkan; kata-kata yang memberikan pengharapan baru bagi hati Timotius. Dalam hal ini, sang rasul mengingatkan kembali prinsip-prinsip iman yang telah ia terima sejak kecil dari ibunya dan neneknya. Karunia terbesar yang anak-anak dapat peroleh ialah karunia iman. Inilah yang diberikan oleh ibu Timotius kepada anaknya.

 Ibu Timotius, seperti halnya ibu-ibu yang lain sekarang ini, hidup di dalam situasi yang sulit baik secara emosional maupun rohani. Ibu Timotius tidak saja menaruh perhatian terhadap anaknya yang bertumbuh dewasa di dalam budaya Helenistis yang korup secara moral; namun ia juga kuatir akan kehidupan kerohaniannya. Ayahnya adalah seorang Yunani dan belum percaya Tuhan, karena itu tanggung-jawab untuk mendidik anak di dalam jalan-jalan Tuhan bersandar pada dirinya (Kisah Para Rasul 16:1-3).

next page