Sebelum anak muda itu menghampiri saya pun, saya sudah tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengannya. Kami berbicara beberapa lama, dan ia berusaha untuk tetap tenang. Lalu saya memintanya untuk datang ke kantor saya, supaya kami dapat berbicara dengan lebih leluasa. Saya baru saja menyampaikan kotbah tentang kasih Allah yang tak bersyarat di gereja itu, dan dalam hati saya bertanya apakah ia mendapatkan sesuatu dari Tuhan melalui kotbah saya itu.
Tetapi ini baru dugaan saja, sampai kemudian ia datang ke kantor saya dan mulai bercerita kepada saya. Air mata mengalir dari pipinya, dan tanpa ia ketahui, hati saya pun turut menangis bersamanya. Trauma emosional yang dialami anak muda ini benar-benar parah, sampai-sampai ia berpikir bahwa satu-satunya jalan keluar dari keadaannya adalah dengan melakukan bunuh diri. Saya menegaskan kepadanya bahwa itu bukanlah jalan keluar dari Tuhan, karena bagaimanapun keadaan kita, Dia tetaplah Allah atas harapan dan pemulihan bukan Allah atas kematian dan penghukuman.
Selama ini ia menganggap hidupnya tidak berarti. Baik dalam pekerjaan maupun hubungan, ia harus bergumul untuk mempertahankannya. Ia menganggap dirinya merupakan suatu kegagalan, dan tidak akan pernah menemui kesempatan untuk mengalami kebahagiaan sebagaimana dinikmati oleh orang lain.
Sebutan-sebutan tidak pantas yang ditujukan kepadanya di masa kecil ternyata membawa dampak buruk yang panjang dalam hidupnya. Ia memercayai kata-kata yang dilontarkan kepadanya itu. Ia melihat orang-orang di sekelilingnya mengalami kehidupan yang sukses, namun untuk dirinya sendiri ia merasa tidak pernah mengalaminya, sampai ia berjumpa dengan Juruselamat.
next page |
|