
Kisah Shannon
Rabu pagi, 29 Agustus 1984.
Saya mencium pipi ibu saya sebelum berpisah, melemparkan buku dan peralatan saya ke kursi belakang mobil saya, dan tidak berapa lama kemudian saya sudah berada di jalan raya. Sesudah mengendarai mobil beberapa mil jauhnya menuju perbatasan negara bagian, saya mengambil lipstick dan berdandan sebentar melalui cermin di mobil. Tiba-tiba, sekilas saya melihat sesuatu bergerak, dan saya merasakan hentakan pada mobil saya. Mungkin itu seekor binatang yang menyeberang, pikir saya. Tetapi perasaan saya menyatakan sesuatu yang lebih buruk.
Saya keluar dari mobil dan berlari ke belakang untuk melihat apa yang baru saja saya tabrak. Oh Tuhan! Di sana terbaring tubuh seorang wanita berambut ikal, tertelungkup di rumput, darah berceceran di sana-sini. Di dekatnya saya melihat sepedanya yang sudah tak berbentuk.
Saya mulai gemetaran. Saya ingin membalikkan badannya agar saya dapat memastikan keadaannya, tetapi segera saya memutuskan untuk menelepon ambulan.. Saya menelepon ke dua tempat, yang pertama: 911, kemudian ibu saya. “Ikuti saja jalan raya itu sampai Ibu melihat mobilku,” kata saya, tanpa dapat mengatakan hal yang lainnya.
Empat puluh lima menit kemudian, ambulan datang. “Kita harus menelepon mobil jenazah,” kata dokter dengan raut muka sedih. “Nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi.”
Dengan pikiran yang semakin kacau balau, saya meninggalkan tempat kecelakaan itu, saya bahkan tidak tahu siapa nama perempuan itu yang baru saja saya tabrak. Tetapi beberapa jam kemudian, saya ditelepon oleh seorang pria. Ia memperkenalkan dirinya, Jerry Speight. “Saya adalah tetangga Marjorie Jarstfer. Ketika saya mendengar kabar ini, bersama pendeta saya, saya segera memberitahu Gary, suami Marjorie.” Hati saya semakin kalut. Keluarga Marjorie kini telah tahu apa yang terjadi. Mungkin mereka akan menyumpahi saya untuk mati juga. Bahkan, saat itu saya sempat berpikir untuk bunuh diri.
Tetapi Jerry melanjutkan, “Saya ingin kamu tahu apa yang pertama-tama dikatakan oleh Gary, ‘Bagaimana keadaan gadis itu? Apakah ia terluka juga? Apakah itu kesalahannya atau bukan?’”
Saya tidak dapat memercayai apa yang baru saja saya dengar. Bagaimana mungkin respon pertamanya adalah hal-hal positif yang ditujukan kepada saya, orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini?
“Gary ingin supaya kamu datang ke rumahnya besok sore,” kata Jerry. “Ia ingin bertemu dengan keluargamu.” Bagaimana saya dapat menolak? Tetapi saya takut sekali membayangkan pertemuan tersebut.
next page |
|