Sementara saya melangkah ke pintu rumah Gary keesokan harinya, saya merasa seolah-olah saya sedang menghadapi satu regu penembak. Namun di saat berikutnya, saya hanya bisa terpana. Seorang pria paruh baya berbadan tegap, menghampiri saya, dengan tangan terentang lebar.
Tidak ada sedikitpun kebencian terpancar dari matanya. Saya mulai menangis, dan Gary merangkul saya, air mata saya membasahi bajunya. “Maafkan saya!” hanya kata-kata itu yang terus saya ulangi.
Gary menuntun saya ke ruang tamu, dan mempersilakan saya duduk di dekat jendela. Saya tidak bisa berhenti menangis. “Shannon,” katanya dengan lembut, “Aku ingin menceritakan kepadamu tentang Marjorie. Kami berdua telah bertahun-tahun melayani sebagai penerjemah Alkitab untuk Wycliffe. Marjorie sangat mengasihi Allah, bahkan tidak ada batasnya. Ia bergaul akrab dengan Tuhan. Belum lama ini ia bercerita kepadaku bahwa ia merasa Tuhan ingin memanggilnya pulang segera. Dan di gereja pun, ia bersaksi bahwa ia siap meninggalkan dunia ini dan pergi menghadap Tuhan kapan saja.”
Bagaimana mungkin seorang manusia begitu dekatnya dengan Allah sehingga ia tahu kapan waktunya di bumi berakhir? Saya sungguh heran.
“Shannon, kecelakaan ini mungkin saja mengejutkan kita semua, tetapi sama sekali tidak mengejutkan Tuhan. Dia siap menyambut Marjorie, untuk bergabung di surga.” Bahkan sesuatu yang lebih mengejutkan dikatakan Gary kepada saya. Gary mengatakan, ia percaya bahwa Allah memilih saya untuk mengambil bagian dari halaman terakhir kehidupan Marjorie di bumi ini. “Tuhan memilihmu karena Dia tahu engkau cukup kuat menghadapi hal ini. Aku ingin menyerahkan warisan Marjorie yaitu sebagai wanita Allah kepadamu. Aku ingin engkau mengasihi Yesus tanpa batas, sama seperti yang dilakukan Marjorie. Aku ingin engkau mengizinkan Tuhan untuk memakaimu bagi kemuliaan-Nya, Shannon.”
Di usia saya yang baru 16 tahun, saya tidak dapat membayangkan apa artinya kata-kata itu. Namun selama 23 tahun saya merenungkan hal itu dan berusaha mewujudkannya. Sebagai penulis, pembicara dan konselor rohani, saya berusaha meraih jubah Marjorie, yaitu sebagai wanita yang mengasihi Yesus tanpa batas.
previous page | next page |
|