Saya melipat dan menggantungkan kacamata saya di kaos. Saat itu suasana pantai panas sekali, lebih panas dari yang saya duga. Meskipun niat saya adalah untuk membaca, namun akhirnya saya memilih berenang.

Baru saja saya masuk ke dalam air, awan hitam tiba-tiba muncul di langit, disertai dengan suara guntur bersahut-sahutan. Saya pun segera kembali ke darat, mengenakan kembali kaos saya, melipat kursi dan bergegas menuju hotel.

Saya pikir tidak banyak orang yang memahami bahwa Tuhan senang memberikan tantangan yang memberi dampak pada kehidupan kita bahkan di dalam kejadian-kejadian yang biasa. Untuk “peristiwa-peristiwa besar” seperti pernikahan, pindah rumah, atau diagnosa dokter yang menakutkan, memang kita dapat memperkirakan tantangan apa saja yang ditimbulkannya. Namun bila tantangan itu muncul dari peristiwa yang biasa-biasa saja, justru dampak yang ditimbulkannya dapat mengejutkan kita.

Daya Lihat Mata Kita Sangat Terbatas
Saya yang dahulu memiliki kemampuan yang sangat baik dalam penglihatan saya, kini tidak dapat memandang dengan jelas benda yang berada tujuh meter atau lebih. Semuanya buram, dan dampak yang ditimbulkannya ke mana-mana: Saya mengalami kesulitan menonton televisi, atau kurang jelas saat berdandan. Karena itulah, kacamata kini menjadi sahabat saya di manapun saya berada. Tetapi kini, ketika saya sudah hampir tiba di hotel, saya menyadari bahwa kacamata saya tidak ada pada saya. Dalam sekejap kepanikan melanda: Liburan ini dapat berantakan dibuatnya!

Segera saya kembali ke pantai. Dari dalam mobil saya berpapasan dengan suami saya yang baru saja pulang dari bersepeda, dan saya berteriak memberitahukan masalah yang tengah saya hadapi. Namun ia menanggapinya dengan santai saja, “Mudah-mudahan ketemu, ya!”
Saya memacu mobil saya, dan berdoa dengan panik, “Tuhan tunjukkanlah kepadaku di mana kacamataku. Jangan biarkan keluarga itu pergi!” Saya takut kalau satu keluarga yang berkemah di pantai itu merekalah satu-satunya harapan saya juga sudah pergi karena ketakutan dengan cuaca yang menyeramkan itu.

Beberapa menit kemudian, saya tiba di sana, dan saya lega karena keluarga itu masih ada, sedang bersiap-siap mengemas peralatan mereka. Saya mencoba menjelajah mencari kacamata saya, dan tentu saja saya mengalami kesulitan, karena saya tidak memakai kacamata! Saya terus memeriksa di tempat-tempat yang telah saya datangi. Akhirnya…’ Itukah? Remang-remang saya melihat sebuah benda di atas pasir. Ya benar! Itu kacamata saya! Saya menarik nafas lega dan berseru, “Terima kasih, Tuhan!” Saya kembali ke hotel, namun setibanya di sana saya mulai kecewa karena suami saya seolah-olah tidak peduli dengan apa yang baru saja saya alami, yang bagi saya merupakan sesuatu yang teramat penting, bahkan menentukan suksesnya liburan ini!

next page