Gagal dalam Tes Penglihatan Rohani
Tiba-tiba saja, di tengah-tengah suasana hati yang dongkol, saya mendapatkan suatu kesan yang kuat di dalam batin saya, Engkau bersedih karena membayangkan engkau tidak dapat melihat dengan jelas selama beberapa hari, tetapi seberapa dalamkah perhatianmu pada kebutaan rohani? Kacamata itu telah membuatmu menangis, karena sempat hilang. Namun pernahkah engkau merasakan dukacita-Ku terhadap sesamamu yang terhilang selama-lamanya?Pernahkah engkau menangisi kehidupan orang lain? Pernahkah engkau membagikan belas kasihan-Ku kepada hati mereka yang terluka?
Segera berbagai gambaran dan ingatan menyerang saya:
Pokok doa bagi rekan pelayan yang sedang sakit, atau saudara-saudara saya yang belum percaya (Memang betul saya mendoakan mereka, tetapi seringkali saya mendoakannya dengan setengah hati, sekadar tugas dan rutinitas. Padahal bila saya memohon doa bagi orang-orang terdekat yang saya kasihi, bukankah saya menuntut kesungguhan dari semua orang yang mendoakannya?)
Kata-kata yang saya ucapkan menanggapi kematian ibu dari teman saya. (“Menyedihkan sekali,” begitu kata saya. Tetapi saya tidak pernah memikirkan, bila itu terjadi pada ibu saya sendiri, tentu itu adalah suatu kesedihan yang hampir tidak mungkin untuk ditanggung.)
Rasa sakit di pagi hari yang dialami anak perempuan saya yang tengah hamil, yang membuatnya sangat kesulitan untuk bekerja seharian. (Meskipun saya bersimpati, namun lebih kuat terbersit rasa senang karena mual-mual yang dialaminya memastikan bahwa ia hamil.)
Mengapakah kita menjalani kehidupan dengan perspektif egois seperti itu? Mungkin karena ada begitu banyak luka yang kita alami, sehingga kita lupa akan penderitaan orang lain di sekitar kita. Tetapi kapan kita berhenti memikirkan mereka? Atau kapan kita mulai memikirkan mereka? Dosa pertama berbicara tentang keinginan pribadi yang diberikan tempat melebihi perhatian kepada yang lain termasuk kepada Allah dan kehendak-Nya.
previous page | next page |
|