Berpindah dari Perspektif yang Berpusatkan Diri Sendiri
Saya mulai memahami makna Jumat Agung, ketika saya membaca Yohanes 19. Tiba-tiba mata saya menangkap ayat 25: “Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya…'” Maria ada di situ! Sebagai seorang ibu, saya membayangkan, Bagaimana mungkin ia menyaksikan suatu kengerian yang tengah dialami Anaknya sendiri? Tetapi kemudian saya menyadari, Bagaimana mungkin ia berada jauh dari Anaknya itu di saat-saat terakhir dalam hidup-Nya?

Sudah sangat sering saya melihat lukisan tentang Yesus yang disalibkan, tetapi dari semua itu tidak satupun yang pernah merasuk menembus emosi saya. Saya memandangnya sekadar “lukisan rohani” belaka. Kebiasaan dan rutinitas telah memberi jarak antara saya dan Kristus yang tersalib, sampai pada saat kata ibu dari ayat di atas meluluhkan pertahanan saya. Saya mengizinkan diri saya untuk berdiri memandang eksekusi itu, dan –oh, sanggupkah aku? Terlalu menyakitkan sekalipun bila sekadar dibayangkan membayangkan anak laki-laki saya menatap mata saya sebagai bentuk perpisahan yang menyakitkan. Meskipun saya tidak dapat menahan gambaran itu di pikiran saya lebih dari sedetik lamanya, namun hal itu untuk seterusnya telah mengubah cara saya memandang penyaliban Kristus.
Melihat dengan perspektif kita sendiri tentu saja merupakan sesuatu yang alamiah. Namun kekristenan adalah kehidupan yang dijalani secara supranatural. Saya menemukan bahwa semakin saya masuk ke dalam sebuah kisah Alkitab, semakin dalam pelajaran yang disingkapkan Tuhan. Dan semakin saya menyatukan diri saya dengan orang lain yang tengah menderita, semakin saya diberkati untuk membagikan karakter Allah ke dalam hidup mereka dan memerhatikan Tuhan menjawab doa-doa saya.

Saat itu di pantai, ternyata hujan lebat tidak terjadi. Yang terjadi adalah awan hitam yang hilang lenyap disapu oleh angin ke barat, meninggalkan pantai sehingga menjadi terik kembali, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saya sungguh bersyukur dapat menemukan kembali kacamata saya, namun saya lebih lagi bersyukur untuk penglihatan rohani yang semakin membaik.


- Sandy Feit

previous page