Ketika Yusuf sedang menjalankan tugasnya di rumah Potifar, isteri tuannya itu terus menggoda dan membujuknya. Hari demi hari, Yusuf harus mengarahkan fokusnya pada pekerjaannya dan bukan pada wanita itu yang begitu agresif dalam usahanya merayu Yusuf.
Di puncak serangan itu, Yusuf melakukan sesuatu yang luar biasa: ia berhenti, melihat situasi itu dari sudut pandang surga, dan menegaskan kepada wanita itu mengapa ia menolak keras bujukannya. Ia mengingatkan kepercayaan yang diberikan Potifar kepadanya, dan bertanya, “Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Pernyataan Yusuf yang tegas itu menunjukkan bahwa matanya terbuka lebar memandang Allah. Ia tidak memfokuskan perhatian pada pencobaan yang sedang terjadi. Melainkan, ia memikirkan tentang kepercayaan yang telah diberikan tuannya kepadanya, dan yang terpenting, ia mengarahkan perhatiannya pada Allah yang ia layani. Yusuf tak ragu untuk mengatakannya dengan tegas dan keras kepada wanita itu. Ia mengendalikan keseluruhan situasinya sementara ia menyatakan kesetiaannya kepada Allah.

Dengan mengajukan sebuah pertanyaan kunci di puncak pencobaan yang ia alami, Yusuf mampu bertahan menghadapi tekanan untuk menyerah. Anda pun dapat melakukan hal yang sama ketika keinginan mulai merebak, jagalah mata Anda tetap terbuka, dan fokuskanlah perhatian Anda pada Allah dan bukan pada obyek keinginan Anda itu.

previous page | next page