
Saya banyak menjalani kehidupan Kristen saya dengan memandang ke belakang. Dibesarkan di dalam suatu keluarga yang tidak rukun, saya membawa ingatan akan hal ini di dalam kehidupan saya. Kini saya mengerti betapa pentingnya membiarkan ingatan itu pergi jauh, tetapi memandang ke belakang ternyata sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk saya hapuskan.
Percaya atau tidak, kisah sedih tentang isteri Lot, kisah inilah yang telah menolong saya melupakan masa lalu saya, dan mulai meniti masa depan.
Pelarian yang Menimbulkan Bencana
Di dalam Kejadian 19:1-29, diceritakan bagaimana Tuhan mengutus dua orang malaikat untuk menolong keluarga Lot agar luput dari penghancuran kota Sodom dan Gomora yang sudah di ambang pintu. Oleh karena permohonan Abraham (18:16-32, 19:29), Allah memberikan kepada keluarga Lot kesempatan untuk melarikan diri dari hukuman yang akan diturunkan-Nya terhadap kedua kota yang jahat itu.
Sementara para malaikat berusaha menarik mereka ke tempat yang aman meskipun mereka pada mulanya ragu-ragu, keluarga ini masih harus membuat pilihan untuk benar-benar meninggalkan kehidupan mereka yang lama (19:16-17). Perintahnya sudah jelas: Jangan menengok ke belakang. Jangan pedulikan penghancuran. Lot dan anak-anak perempuannya, yang bergabung meski dengan setengah hati, selamat sampai tujuan (pada kenyataannya, kehidupan rohani mereka sangat kompromis dan mengerikan lihat ay. 18-20, 33-38). Tidak demikian halnya dengan sang ibu, ia membuat keputusan sendiri sebelum sempat melihat kehidupan baru seperti apa yang ditawarkan Tuhan. Alkitab dengan terus terang mencatat bahwa isteri Lot “menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam” (19:26).
Beberapa penafsir berpendapat bahwa “menoleh ke belakang” dapat diterjemahkan dengan “kembali ke belakang”. Mereka berpendapat bahwa isteri Lot tidak memiliki iman seperti Abraham dan Sara, dan hatinya tertuju pada kemewahan dan kesenangan kota Sodom. Lukas 12:34 berkata bahwa di mana harta kita berada, di situ juga hati kita berada. Seperti itulah, isteri Lot “menoleh ke belakang,” atau kita dapat mengatakan bahwa hatinya (bahkan seluruh tubuhnya) menyatu dengan hartanya.
next page |
|