Di Mana Hartamu Berada
Sungguh sulit untuk mencerna kisah ini, di mana ketidaktaatan dan penghakiman digambarkan dengan jelas. Karena itu, saya seringkali bertanya mengapa Yesus mengingatkan kita, “ingatlah akan isteri Lot!” (Lukas 17:32). Setelah saya pelajari, konteksnya adalah kedatangan-Nya yang kedua kali orang-orang menikmati “kesenangan” seperti yang dicontohkan kota Sodom, dan lupa akan bencana yang akan terjadi.

“Demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali,” kata Yesus (17:31). Yesus mengatakan hal yang hampir sama terhadap orang-orang yang ragu-ragu mengikut Dia: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (9:62). Mengapa? Mengikut Yesus menuntut kita untuk meninggalkan masa lalu kita dan melangkah maju bersama-Nya di dalam kehidupan iman. Karena itulah Dia mengingatkan kita, “Ingatlah akan isteri Lot! Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (17:32-33). Ini adalah panggilan, bukan untuk hati yang lemah, melainkan untuk “mereka yang miskin di hadapan Allah,” yaitu orang-orang yang dengan tulus hati mencari kerajaan-Nya (Matius 5:3).

Jalan Raya di Padang Gurun
Ketika kami pindah dari Amerika ke Perancis beberapa tahun yang lalu, hati dan pikiran saya dipenuhi dengan kenyataan akan kenyamanan hidup di tempat asal. Saya takut kalau-kalau saya kehilangan segala sesuatu yang selama ini saya nikmati, dan saya tidak menginginkan perubahan. Saya memerlukan waktu dua tahun pergumulan untuk dapat melangkah maju dan menerima kehidupan yang diberikan Allah di sana.

Saya seolah-olah hidup di tanah nestapa, padahal seharusnya saya dapat melihat ke depan ke tanah perjanjian! Saya menjadi seperti orang Israel yang bersungut-sungut di padang gurun, marah terhadap Tuhan yang telah membawa mereka demi kerajaan-Nya. Seperti umat Israel, saya terkenang-kenang akan Mesir, dan menganggap hina kehidupan di padang gurun, saya memandang kehidupan yang lalu lebih baik dibandingkan kehidupan saya sekarang, dan saya meragukan kuasa Allah yang sanggup mengerjakan hal-hal yang baik di depan.
Tetapi kemudian saya mendapatkan kata-kata dorongan dari Tuhan untuk umat-Nya yang senang menoleh ke belakang, “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara” (Yesaya 43:18-19). Sebuah pertanyaan menghantui saya: Apakah engkau tidak memercayai hal ini? Dia akan melakukan hal-hal yang menakjubkan, membuat jalan raya di padang gurun yang kering dan terpencil di dalam kehidupan kita, dan mengalirkan “aliran-aliran air hidup” ke dalam jiwa kita yang merana (Yohanes 7:38). Namun bila kita tetap memandang ke belakang dan melekat pada apa yang ada di sana, kita akan kehilangan apa yang sedang dilakukan-Nya sekarang.

previous page | next page