Kebebasan, kita seringkali mendengar istilah ini. Bebas dari terorisme, bebas dari tirani, bebas dari stres, kekhawatiran, keraguan, kebebasan finansial, dan sebagainya. Dan seringkali kita diajarkan bahwa bila kita berpikir atau bertindak mengikuti beberapa tips tertentu, atau menjalani gaya hidup tertentu, maka kita akan mengalami kebebasan itu. Kebenaran adalah bahwa hanya ada satu jalan menuju kebebasan, yaitu melalui Yesus Kristus. Ini adalah kabar baik bagi kita, karena kabar ini menawarkan resep yang paling dibutuhkan oleh dunia yang sulit ini, yaitu iman kepada Allah yang berdaulat, yang mengasihi kita tanpa syarat dan yang memiliki rencana yang indah bagi tiap-tiap kita.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31-32). Namun sedihnya, kata-kata-Nya itu tidak ditanggapi dengan sepatutnya. Hati para pendengar sudah terlalu terikat dengan tradisi. Mereka percaya bahwa mereka dapat menyelesaikan sendiri masalah yang mereka hadapi, dan tentu saja semuanya mengandalkan pada kekuatan sendiri. Jadi kita tidak perlu heran dengan jawaban mereka terhadap perkataan Yesus, “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” (ayat 33).
Dari perspektif mereka, mereka tidak sedang terbelenggu. Namun dari sudut pandang Allah, sesungguhnya mereka sedang diperbudak oleh keangkuhan mereka sendiri. Mereka berpikir bahwa mereka sudah merdeka, padahal mereka hidup dalam belenggu kehidupan dalam dosa, kebiasaan dan keyakinan mereka yang salah. Saya pernah mendengar seseorang berbicara seperti ini, “Aku tidak perlu diberitahu siapapun bagaimana aku harus hidup. Hidupku adalah milikku sendiri, aku bebas membuat keputusan sendiri.”
Yesus menentang pemikiran seperti itu. Dia berkata, “Sesungguhnya setiap orangyang berbuat dosa, adalah hamba dosa…” Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka” (Yohanes 8:34, 36).
Di dalam Sentuhan Hati edisi bulan ini, kita akan belajar apa artinya hidup dalam kemerdekaan yang sejati. Paulus menulis, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita…” (Galatia 5:1). Inilah doa saya bagi Anda supaya Anda merindukan kemerdekaan dari-Nya lebih dari apapun.
|
|