Para orangtua telah diberikan kesempatan yang luar biasa untuk menunjukkan kasih Allah kepada anak-anak mereka. Dengan dukungan keluarga dan teman-teman, para orangtua dapat menolong anak-anak mereka menemukan sukacita dan kepuasan di dalam hubungan pribadi dengan Yesus.
Namun di dalam kelemahan kita, kita dapat menjadi batu sandungan bagi anak-anak kita, alih-alih menjadi jembatan menuju Allah. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk memakai hikmat dalam meresponi setiap upaya mereka. Karena berharap anak-anak mereka akan mendapatkan kehidupan yang berhasil, para orangtua seringkali menetapkan standar yang tinggi. Bila anak Anda mendapatkan nilai A, apakah Anda memintanya untuk mendapatkan nilai A+ di hari berikutnya? Bila anak Anda mendapatkan juara tiga, apakah Anda akan menyepelekannya dan memaksanya untuk mendapatkan peringkat yang lebih baik?
Bila kita tidak berhati-hati, anak-anak kita dapat salah memandang upaya mereka sebagai tidak memenuhi standar dan mengecewakan orangtua mereka. Bahayanya di sini adalah bahwa di kemudian hari mereka akan memiliki cara pandang yang sama tentang Allah. Mungkin mereka berpikir, “Bila aku tidak dapat memenuhi standar yang ditetapkan orangtuaku, bagaimana aku dapat memenuhi standar Allah?”
Sah-sah saja bila kita mendorong anak-anak kita untuk mencapai prestasi yang tinggi. Namun kita harus menyeimbangkan dan menguatkan jati diri mereka, tanpa mengaitkannya dengan hasil yang mereka capai. Dengan melakukan ini, mereka akan tahu bahwa kita menghargai mereka dan mereka akan mudah percaya bahwa Allah pun menghargai mereka.
Tentu saja, keinginan setiap orangtua Kristen adalah agar anak-anak mereka hidup dengan bergantung pada Allah dan menerima Kristus sebagai Juruselamat. Penerimaan dan penghargaan dari orangtua akan menolong mereka dalam memahami kasih Allah yang tak bersyarat, dan juga kebenaran yang luar biasa bahwa Dia telah mengampuni dosa-dosa mereka dan menghapuskan penghukuman dari diri mereka (Roma 8:1).
|