22 Juli 2008 -- Selasa

Sifat Yang Sulit Mengampuni | Ibrani 12:11-15

Oleh karena kecenderungan manusia akan dosa, kita pun dikelilingi oleh banyak kesempatan untuk mengampuni orang lain. Barangkali kita telah dikritik dengan tidak adil, dikecewakan oleh janji yang dilanggar, atau dirugikan secara fisik atau finansial. Di dunia yang sudah rusak ini, daftar kesalahan orang lain terhadap kita pastilah sangat panjang.

Petrus bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Jawab Yesus: “Bukan!... Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Matius 18:21-22). Dengan kata lain, di setiap waktu baiklah kita bersedia untuk mengampuni.

Pengampunan bukan berarti mencari alasan untuk membenarkan tindakan salah yang diperbuat orang lain. Juga bukan soal melupakan apa yang telah terjadi atau berpura-pura seolah-olah tidak pernah terjadi. Sebab bila seperti itu, sama saja dengan menekan luka dan menutupi masalah dan bukannya menyelesaikannya.

Pengampunan sejati memerlukan tindakan sadar dari pihak kita. Sementara kita mengakui bahwa sesuatu yang salah telah menimpa kita, kita memilih untuk melepaskan si penyerang dari kewajiban apapun terhadap kita. Pada dasarnya, jika kita berkata, “Aku tidak akan menyimpan kesalahan orang itu terhadap aku,” itu berarti kita sedang memperluas belas kasihan, sebagaimana yang telah dilakukan Tuhan atas kita.

Bila kita berpikir bagaimana caranya menghukum orang yang bersalah kepada kita, sesungguhnya diri kitalah yang lebih lagi dirugikan oleh sikap kita yang tidak mau mengampuni. Pembalasan adalah seperti lumpur, yang akan menyumbat pikiran dan hati kita. Amarah yang tidak ditangani dengan baik akan memunculkan kepahitan di dalam hati kita, yang pada akhirnya akan menghalangi hubungan kita dan mencegah kita dari mengalami kasih Bapa.

Sifat yang tidak mau mengampuni sangat berbahaya dan meracuni jiwa kita. Satu-satunya obat adalah dengan memperluas pintu pengampunan, dengan mengingat bagaimana Tuhan telah mengampuni kita sepenuhnya.