Rasa bersalah yang palsu dapat membebani orang percaya sedemikian beratnya. Rasa malu yang luar biasa dapat membawa kita untuk meragukan kasih dan kebaikan Allah. Bahkan kita mulai meragukan apakah keselamatan kita benar-benar nyata. Syukurlah, kita masih memiliki obat untuk menyembuhkan penyakit ini.
Pertama-tama, sangat berguna bagi kita untuk mengenali akar penyebab rasa bersalah kita. Misalnya, mungkin hal itu disebabkan oleh legalisme atau mendengarkan kritikan orang. (Lihat renungan kemarin untuk memahami berbagai penyebab dari rasa bersalah.)
Kemudian, kita harus menegaskan tiga kebenaran ini:
Aku spesial di mata Tuhan. Alasan apapun yang kita berikan untuk “membuktikan” yang sebaliknya adalah dusta yang berasal dari Iblis. Tiap-tiap kita adalah ciptaan yang unik. Tuhan memilih untuk menciptakan kita dan melimpahi kita dengan talenta-talenta serta kemampuan yang khusus untuk dipakai bagi kemuliaan-Nya (Efesus 2:10).
Aku dikasihi. Bapa surgawi mengutus Anak-Nya Yesus Kristus untuk mati bagi dosa-dosa kita, supaya kita dapat hidup bersama-Nya selama-lamanya. Kita tidak perlu melakukan apapun untuk mendapatkan kasih dari-Nya, semuanya sudah tersedia bagi kita. Bagian kita cukup menerima-Nya, yaitu dengan percaya bahwa Dia telah mati menggantikan kita, dikuburkan namun bangkit kembali.
Aku telah diampuni. Jika kita mengaku dosa kita, Dia pasti akan mengampuni. Alkitab menjanjikan bahwa prosesnya memang sesederhana itu (I Yohanes 1:9).
Oleh karena musuh kitalah yang mendorong rasa bersalah yang palsu itu, langkah terakhir kita haruslah menolak dustanya itu. Kita harus mendeklarasikan pernyataan ini, “Di dalam nama Yesus, aku menolak semua rasa bersalah ini, karena semuanya itu tidak memiliki dasar firman Allah. Semuanya itu palsu belaka, dan aku menolak mengakuinya.” Sebagai hasilnya, beban rasa bersalah itu lenyap disingkirkan dari hati kita, dan kita dapat menghadap Tuhan dengan hati yang telah dimerdekakan.
|