16 Juli 2008 -- Rabu

Apakah Pencobaan Itu?  | Matius 26:41

Setiap orang pasti mengalami pencobaan. Seberapapun dalamnya kerohanian Anda dan seberapapun lamanya Anda mengikut Tuhan, Anda tidak akan lepas dari menjadi obyek pencobaan. Bentuknya dapat berupa bisikan lembut, bisa juga suatu teriakan kuat di dalam pikiran Anda. Bagaimanapun bunyinya, Anda tahu seperti apakah rasanya pencobaan itu. Tetapi bila seseorang bertanya kepada Anda tentang hal itu, bagaimanakah Anda akan menjelaskannya?

Secara sederhana, pencobaan adalah suatu bujukan untuk memenuhi hasrat tertentu yang dikaruniakan Allah melampaui batasan-batasan yang diberikan Allah. Banyak orang tidak setuju dengan definisi ini. Mereka tidak percaya bahwa bujukan untuk berbuat dosa ada kaitannya dengan Allah, sekecil apapun kaitan itu. Tetapi pikirkanlah hal ini, di area apakah Anda paling banyak dicobai? Apakah di area materi? Keintiman? Pertemanan? Makanan? Semua itu diciptakan oleh Allah, dan dipakai-Nya untuk memberkati umat-Nya. Masalah muncul ketika kita yang masih menjalankan “program” dari sifat kedagingan kita yang lama menanggapi dorongan-dorongan itu melampaui batasan-batasan sehat yang ditetapkan Allah bagi kita.

Misalnya, Allah menciptakan seks untuk dinikmati di dalam suatu hubungan pernikahan. Namun, hasrat yang diberikan Allah ini dengan parahnya dirusak oleh keintiman fisik di luar pernikahan. Sesuatu yang dirancang Allah untuk menggenapi tujuan-Nya malah dijadikan sebuah sumber dosa dan rasa malu. Ini sama sekali bukanlah hal yang dikehendaki Allah.

Salah satu strategi Iblis yang terutama adalah mendistorsikan dorongan yang diberikan Allah untuk tujuannya yang jahat. Anda dapat memutuskan serangannya itu dengan 1) mengingatkan diri Anda di mana dorongan itu pertama kali muncul, dan 2) meminta kekuatan dari Allah untuk memakai dorongan itu bagi kemuliaan-Nya, sebagaimana yang Dia kehendaki.