Ada dua kategori orang percaya. Pertama, para pengikut Kristus yang berkomitmen, yang fokusnya adalah menyenangkan Allah dan bertumbuh dalam iman mereka. Jenis kedua adalah orang Kristen yang tidak peduli dengan perkara-perkara rohani, yang pikirannya masih dipenuhi dengan pikiran duniawi. Jenis kedua ini sangat dipengaruhi oleh budaya zaman ini dan seringkali berkompromi perihal keyakinan mereka. Izinkan saya menjelaskan lebih rinci lagi tentang apa yang terjadi dengan orang-orang ini, yang meskipun telah selamat namun terus-menerus menjalani kehidupan yang sia-sia.
Ketika seorang percaya kehilangan pegangannya terhadap firman Allah, maka ia mulai cenderung terbawa kepada segala hal yang sifatnya fana. Ia cenderung untuk tidak taat terhadap perintah atau tidak mau memercayai kebenaran. Ia tidak lagi tertarik untuk membaca Alkitab. Cepat atau lambat, ia akan ditarik ke dalam pesona budaya yang begitu kuat. Dan bila ia mengizinkan budaya dan cara pandang sekelilingnya memengaruhi pemahamannya, maka waktu dan sumber daya yang ada padanya pun akan tersedot. Perlahan tetapi pasti, ia menggandeng “kekasih baru” yang sukses merebut hatinya menjauh dari Tuhan.
Tidak lama kemudian, aspek-aspek lain dari budaya yang dahulu ia anggap sebagai kotor, kini mulai menggodanya untuk mencoba-coba hal-hal itu, sampai akhirnya ia menyerah kepada dorongan nalurinya. Hidupnya tidak akan lagi berisi kesaksian, karena baik perilaku maupun karakternya tidak sedikit pun mencerminkan perilaku atau karakter seorang beriman. Pengaruh budaya telah membuat orang percaya itu tidak berguna bagi kerajaan Allah.
Apakah saat ini Anda menyerah kepada cara pikir duniawi di beberapa area hidup Anda? Jangan menyia-nyiakan hidup Anda dengan mengejar hal-hal yang tidak dapat memberi damai sejati. Bertobatlah dan kembalilah kepada kasih Anda yang mula-mula, kepada Allah yang menyelamatkan Anda. Damai sejahtera dan hidup yang diberkati akan menjadi upah bagi mereka yang mengarahkan fokus semata-mata untuk menyenangkan Allah.
|