Setiap hari kita hidup tanpa pernah terlepas dari budaya zaman kita, dengan segala sikap dan pandangannya yang terus berusaha memengaruhi kita melalui radio, televisi, buku dan majalah, dan bahkan di dalam percakapan di warung kopi. Di tengah-tengah budaya ini, kita sebagai orang percaya seolah-olah tidak dapat menghindari diri untuk berpikir dan menjadi seperti orang lain yang tidak percaya. Namun Alkitab memanggil kita untuk hidup di dalam budaya kita tanpa perlu mengambil bagian di dalamnya. Di dalam suratnya kepada Titus, yang melayani di pulau Kreta yang penduduknya sangat duniawi, Paulus menjelaskan bagaimana seharusnya kita menjalani hal ini, yaitu kehidupan yang tidak terkhamiri oleh budaya yang tidak memuliakan Allah.
Orang-orang yang tanpa cacat cela artinya mereka yang tidak akan turut serta di dalam dosa budaya mereka harus “berpegang kepada perkataan yang benar” (Titus 1:9). Agar kita dapat berdiri tegak di tengah tarikan budaya zaman ini, kita harus berpegang teguh kepada firman Allah dan membangun suatu gaya hidup yang menerapkan prinsip-prinsipnya. Alkitab adalah penyataan dari Allah. Melalui Alkitab Allah memberitahukan kepada kita apa yang Dia pikirkan, bagaimana Dia bertindak, dan apa yang Dia harapkan dari kita. Bila kita senantiasa merenungkan dan menerapkan firman Allah di dalam hidup kita, maka kita akan hidup dengan benar, terbebas dari kesalahan dan dosa.
Firman Allah sama sekali tidak akan bermanfaat bagi kita bila kita tidak membuka hati kita untuknya. Merenungkan firman Allah haruslah menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Kita harus terus menggali makna yang terkandung di bagian Alkitab yang kita baca, dan menerapkannya di dalam hidup kita. Agar dapat menerapkan kebenaran firman Allah, kita tidak hanya harus percaya dengan sepenuh hati, melainkan juga menaatinya dengan konsisten. Selama kita mengambil langkah-langkah praktis untuk memegang Alkitab sebagai sauh terhadap sistem kepercayaan kita, maka kita tidak akan diombang-ambingkan oleh budaya zaman kita.
|
|